Aku Adalah Pikiranku

www.soenardymael.com

Arlas

                                                                                        ____ Arlas Sahabatku____

Arlas maraton.
Mengejar luang,
tuk mengecup lubuk kebenaran.

Di jalur panjang itu,
Arlas tertampar.
Oleh rintihan pedih pinggiran,
dan hikayat empedu ummat ber-episode.

Dikala sayu syahdu menerpa,
Arlas pun bersangkur.
Menyulap kata menjadi runcing tombak,
dan bersikeras meliarkan samurai.
Sembari menebas horison siluman bertopeng tulus,
juga menyayat ulu hati bergaun murka.

Arlas membangun.
Mendirikan tugu keteguhan,
menegakan tonggak ketauhidan,
tuk mengangkat asa kemuliaan manusia.

Tak lupa Arlas bermunajat.
Melayangkan detak denyut pinta.
Mengetuk pintu kehariban sang pemurah,
dan mengemis kekokohan.
Agar bangunan tak roboh,
Mejadi lempengan kebiadaban.

                 Makassar, 21/05/2012.
                           By :
             ____Mael Soenardy____

soenardymael@gmail.com

Spirit Ruh Aososangrabuba

Arus yang menghanyutkan. Hasil buah karya potensi manusia yang jelas terang terlihat secara kasat mata, yakni lajunya kemajuan di bidang ilmu pengetahuaan dan teknologi. Desain dan modifikasi model produk teknologi tak henti di lakukan guna mempermudah manusia hingga lebih canggih dan praktis dalam melakukan serta menyelesaikan segala pekerjaanya. Aneka teknologi sebagai instrumen yang di ciptakan memiliki asas manfaat signifikan, dimana informasi dari belahan dunia pun dapat dengan mudah di akses, belum lagi pada aspek-aspek yang lain. Gambaran terhadap drastisnnya perkembangan zaman telah banyak di urai oleh pengkaji peradaban, hal yang juga teridentifikasi dalam telaahnya ialah efek dari perkembangan kemajuan itu sendiri. Tontonan era kontemporer yang seram dan menakutkan yakni suatu pergeseran paradigma sebagai wujud dari ketidak siapan mental mayoritas ummat manusia terhadap perkembangan dan kemajuan zaman telah membuat fenomena lupa identitas pun mencuat. Mungkin ini adalah klimaks peradaban yang mulai kehilangan kekuatan nilai budayanya seperti yang tengah di kemukakan Arnol Toynbee dalam tulisannya di buku sejarah umat manusia.

Kejutan masa depan (The Future Shock) begitu kata Alfin Tofler. Pada konteks praksisnya, paradigma materialisme dan individualisme seolah telah mulai merasuki masyarakat dunia, nilai-nilai humanis mulai tak lagi dihiraukan dan diabaikan, bahkan keyakinan terhadap spiritualitas seakan mulai luntur. Materi lebih di anggungkan ketimbang nilai, kepentingan pribadi lebih di kedepankan daripada kepentingan mayoritas serta distorsi moral kemanusiaan makin menjadi-jadi hingga Francis Fukuyama turut berteriak tentang adanya “Guncangan Besar”. Apa yang menjadi kejutan dan apa yang menjadi guncangan di era saat ini?, tidak lain ialah ketidak siapan mental ummat manusia di era kekinian.

Identitas dalam ancaman. Tanpa di pungkiri, bahwa indonesia dalam kategorinya merupakan negara konsumtif yang selalu giat mengimpor berbagai macam produk dari negara-negara maju, mulai dari sistem politik, sistem ekonomi hingga teknologi yang di gunakan. Oleh karena lemahnya daya filter juga kolobarasi terhadapa nilai kearifan manjadikan manusia berlomba-lomba untuk meruntuhkan keadaban peradabannya sendiri.
Loncatan-loncatan perkembangan. Di saat mental masyarakat gelombang pertama (era agraria) belum di bentuk secara kokoh lantas harus di paksa masuk pada gelombang ke dua (era industri) lalu dengan jangka waktu singkat masuk lagi pada gelombang ketiga yakni era pesatnnya teknologi dan informasi akibatnnya corat marut moral pun pesat secepat lajunnya kemajuaan.
Makin fatal lagi saat prospek pembangunan oleh pemerintah masih mengarah pada pembangunan fisik (infrastruktur) semata dan bukan pembangunan mental (suprastruktur) juga membuat sehingga moral kemanusiaan mengalami degradasi. Sebagai bagian dari contoh akan model pembangunan di tiap-tiap kota, bangunan besar seperti mall selalu di prioritaskan untuk di dirikan tanpa lagi bertanya soal  siap atau tidaknnya masyarakat terhadap bangunan itu. Dapat kita telanjangi bahwa gaya hidup dan pola prilaku masyarakat masa kini tengah di pengaruhi budaya yang tak semestiya di pakai, ironisnya wabah penyakit lupa makna sebagai ancaman yang dapat meruntuhkan bangunan identitas. Berangkat dari aneka problem yang terjadi maka para pengrajin pencerahan menghimbau untuk mendaur dan mengangkat kembali nilai-nilai kearifan lokal.

Aososangrabuba, simbol yang di akui sebagai nilai oleh masyarakat di suatu negeri bagian timur yang di kenal denga julukan gamrange. Aososangrabuba adalah singkatan dari Akal re olow, Sopan Santun, Ngaku Rasai dan Budi Bahasa, secara harfiah di ambil dari bahasa Weda, patani dan maba yang berarti akal dan hati, sopan dan santun, mengakui persaudaraan dan budi dalam berbahasa. Falsafah yang dulunya di cetuskan oleh para leluhur di negeri yang juga berjulukan fagogoru itu. Merupakan hasil interpretasi terhadap nilai islam yang jauh sebelumnya telah di anut dan mengakar pada masyarakatnya. Nilai Aososangrabuba kemudian di jadikan sebagai pedoman dasar dalam kehidupan masyarakat. Di lihat dari kalimatnya saja dapat di konklusikan bahwa kadar kebijaksaan pada Aososangrabuba adalah merupakan nilai kearifan yang mesti di angkat seperti himbau para pencerah.
Kaum muda halteng sadar akan kondisi dan tantangan zaman, ini tengah mengeksplorasi nilai Aososangrabuba lalu menginternalisasi nilai tersebut dan di jadikan sebagai dalil serta acuan mendasar dalam salah satu institusinya. IPMA Halteng nama wadahnya, organda berskala kabupaten yang ada di kota makassar provinsi sulawesi selatan ini hendak menjadikan nilai-nilai Aososangrabuba sebagai asas pijak. Oleh karena Aososangrabuba di akui secara formal untuk di jadikan sebagai landasan pijak gerak roda organisasi maka aktualisasi dan impelementasi terhadapnya mestilah tepat bahkan sesuai dengan artikulasi hakiki daripada nilai Aososangrabuba.

IPMA Halteng secara organisatoris adalah merupakan institusi yang berasaskan kekeluargaan, memiliki dua bentuk fungsi baik secara internal maupun secara eksteral. Fungsi secara internal yaitu pengkaderan tentu terminal terakhir yang menjadi tujuan adalah menciptakan produk anggota yang berkwalitas, komitmen, konsisten serta konseren terhadap nilai Aososangrabuba. Jika ini di efaluasi, akankah nilai-nilai ini benar telah di anut seutuhnya oleh kaum muda khususnya mahasiswa Halteng yang ada di makassar?.

Aososangrabuba sebagai nilai luhur mesti di taburkan dan di semburkan kepada seluruh kaum muda halteng agar senantiasa menjadi spirit ruh yang menyatu dengan pewarisnnya. Asa dan cinta tengah terbingkai dalam nilai Aososangrabuba merupakan identitas yang tak harus terbengkalai sebagai dalil semata dan tak pula hanya di jadikan simbol mati belaka melainkan harus di hayati, di jiwai oleh pribadi-pribadi kaum muda halteng untuk di amalkan.
Wacana abad pencerahan selalu mengarah pada posisionalitas. Dengan demikian menuntut pembentukan mental masyarakatnya, lebih teknis lagi yakni mengkonstruk pemikiran dan membentuk perasaan hati masyarakat agar lebih bijak maka slogan akal re olow sudah dapat di benarkan sebagai hal yang tak harus di abaikan. Tepat meletakan karakter diri sebaik mungkin sehingga kita tak terjerumus dengan arus yang menghanyutkan, ini akan dapat di jawab dengan nilai-nilai lain yang terkandung dalam Aososangrabuba. Salah satu psikolog tersohor yang bernama Eric From mengatakan bahwa mental, emosi dan nafsu seseorang dapat di bentuk oleh lingkuangnya, namun yakin bahwa bila nilai Aososangrabuba benar-benar telah menjadi spirit ruh yang merasuki maka kita akan berkata tidak pada dalil zaman mengatur kita dan justru akan sebaliknya bahwa kita yang harus mengatur lingkungan itu.

Sebagai pewaris Aososangrabuba patutlah kita memproteksi diri dan bertanya, Apakah nilai Aososangrabuba telah menjadi spirit ruh yang merasuk dan menyatu dengan kita?, berapa besar keyakinan kita terhadap nilai tersebut?, sudahkah kita aktualisasikan nilainya?.
Ingatlah bahwa pola prilaku sehari-hari kita adalah wujud dari loyal dan tidaknya kita terhadap nilai Aososangrabuba. Untuk tidak menghiyanati warisan berharga itu maka nilai Aososangrabuba harus dan wajib di internalisasikan kedalam diri seolah di nikahi lalu di manifestasikan secara konkrit dalam berprilaku dan berkarakter.
Melawan dengan kecerdasan dan nilai atau tergilas jaman.
Tabea...
Wassalam.
                                                                                                                                                  Makassar, 09/11/2011
By Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Buat Kandidat Bupati Kabupaten Halmahera Tengah

Lalu lalang kepentingan tanpa rambu-rambu
Membuat tabrakan kecelakaan… (W.s Rendra).

Peristiwa kompetisi politik. Demokrasi politik seperti di utarakan Josep A. Scumpeter, yakni sebuah mekanisme atau prosedur untuk memilih dan dipilih menjadi pemimpin, secara praksis nampak menuai bayak problem oleh karena sikap tak wajar masih terus menerus diperagakan para politisi yang sudah pasti sengaja menanggalkan jaket rasionalitas dan busana etika politik. Efeknya, terjadi konflik horizontal antara masyarakat pendukung, praktek money politik, penggelembungan suara oleh KPU selalu saja turut mewarnai agenda pemilihan, baik pilpres, pilgub bahkan pemilukada/ pilwako ditiap kabupaten/ kota. Mungkin ini persembahan karya dari pemilik salah atur.

Antara daulat ambisi dan daulat kemanusian. Demokrasi politik pada hakikatnya adalah kompetisi memperebutkan amanah kata Anas, ini nyata diartikulasikan dengan sempit oleh kompetitor murahan sebagai praktek ekstrim yang mengancam keharmonisan. Caci maki tak cerdas di sembur yang selanjutnya menampar Ke-Kita-an. Fenomena objektif ini, dipicu oleh prinsip ke-kami-an harus menang, yang kental lengket pada mereka, penganut faham dangkal ke-kami-an. Tak heran, meski para penggiat pencerah mendendangkan syair etika kemanusiaan namun kadang belum mampu membendung ancaman daulat ambisi.

Kearifan dikucilkan oleh kepentingan. Ke-kita-an seakan menu basi yang tak sudi dilumat oleh bendera-bendera Ke-kami-an yang tampil berkibar dengan dandanan keangkuhan, maka kebersamaan, kekeluargaan dan spirit fagogoru dapat retak ulah dari hantaman virus hujat menghujat yang riuh bergentayangan ditiap sudut negeri. Nilai antik kearifan sering dibikin rapuh oleh penggiat scenario horor. Ini adalah kaki yang berbaris bersiap untuk men-sepak kearifan.

Benturan horizontal antara masyarakat sebagai bias pergolakan ditingkat politisi. Kompetisi disinggasana sewaktu-waktu dapat berimbas pada penyakit baku pukul masa. Juga cukup ironis, tatkala bibir selebriti berlipstik licik, licin menyembur fitnah digelanggang kedaulatan rakyat dan membuat masyarakat terkuyur dogma buta, maka akan tercurah hasrat agresif untuk saling menyerang dan meruntuhan ke-kita-an yang merupakan warisan leluhur demi kemenangan ke-kami-an semata.

Semua demi rakyat. Adalah lirik pidato yang akrab terpercik dari mulut semua kandidat. Bagi kompetitor politik yang tak ingin menampar citranya dengan tuturnya sendiri mestinya benar-benar konsistem untuk mengaktualisasikan statemennya secara konkrit dengan misalnya meniadakan sikap buruk dan tidak lagi menganugrahkan kobobrokan dalam solidaritas sosial agar senantiasa meminimalisir serta meniadakan kontradiksi destruktif irasional antara masyarakat ditengah proses demokratisasi.

Daulat rakyat mesti di tegakkan diatas prinsip daulat rakyat itu. Pertanggung jawaban publik moralitas politik menjadi niscaya oleh karena keutuhan demokrsi ada di tangan aku, kamu dan kita semua. Menjaga proses demokrasitisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga agar siapapun dapat menghormatinya, melawan siapapun yang melanggar hak-hak itu. Merawat proses demokrasitisasi adalah menyatakan sikap secara rasional dan matang sambil ikhlas menerima orang dengan sikap yang berbeda. Pengabaian moralitas berarti sebuah penghianatan atas prinsip suara rakyat adalah suara tuhan, begitu tutur Eep Saefullah Fatah.

Hal yang juga harus diingat dan bukan sebaliknya di abaikan adalah warisan kekayaan leluhur anak cucu, pesan moril dari mulut keriput leluhur tentang ke-kita-an, jikalau tidak menyatu dengan detak denyut nadi anak cucu, tak ditaati sebagai acuan tindak, maka kita adalah anak cucu yang sangat patut dikategorikan penghianat leluhur sendiri.

Hemat saya, untuk merawat, melaksanakan dan mengawasi proses demokratisasi maka saling mengingatkan antara sesama cukup signifikan sebagai sikap untuk menghindari pencemaran dilingkungan rumah kedaulatan rakyat dengan sampah daulat kepentingan tanpa aturan. Dengan demikian, beberapa poin dibawah ini diharapkan dapat digenggam erat oleh para kandidat bupati:
  1.  Merendah untuk meninggalkan politik setan, lalu berdiri diatas aturan main yang sehat dengan mematuhi aturan perundang-undangan.
  2. Jangan mengintervensi dan mengubah independensi anggota KPU menjadi angota Komisi Penghasil Uang yang selalu siap sedia menyelenggarakan pengelembungan suara kandidat berduit.
  3. Mengendalikan ekstrimitas massa siap perang.
  4. Belajar untuk saling berkomunikasi
  5. Tanamkan prinsip untuk saling bertanggung jawab
  6. Siap menerima kekalahan dengan akal sehat
  7. Jika terpilih jangan sekali-kali lupa pada ujaran, bahkan harus siap mengundurkan diri dari kursi kekuasaan bila tidak mampu mengemban amanah rakyat oleh karena kehormatan lebih mulia daripada kekuasaan.

Sekedar menjadi ingatan bagi kita semua. Bahwa diatas lembaran waktu nan panjang, keringat bercampur air mata perih bercucuran, banjir darah, dan banyak nyawa terrenggut adalah biaya mahal untuk membayar kemerdekaan dan demokrasi. Oleh karenanya, kita sebagai generasi tidak perlu melumpuhkan kembali demokrasi yang telah diraih, pula jangan mengantarkan kemerdekaan kemanusiaan dan demokrasi kedalam pusara.

Demikian himbauan moril yang kami layangkan. Beberapa poin diatas, diharapkan dapat menjadi catatan oleh para kandidat bupati dan dipertimbangkan demi kemulusan proses transisi demokrasi, sebab Indah atau tidaknya proses implementasi kedaulatan rakyat tergantung dari ukiran tangan kita semua. Wassalam.


________________ Mael Soenardy ____________ soenardymael@gmail.com

Gores Penyair

Tari pena di atas polos karpet
Alunan gerak berjejak bercak
Pahat makna
Mengukir maksud
terhias umpama.
Mengungkap riwayat hasil tatap
Melukis cerah dan mendung
Menelanjangi suasana
Merangsang penggiat tengok.
Luapan pikir nilai meronta-ronta di tengah bait
Menjadi arus yang membikin hanyut
Di ikuti badai yang menghantam rasa
Geger di tengah ruang dan waktu.
Membuat suhu berpacu
Membalut naluri hingga merinding
Menyapa batin hingga menggigil
Memanggil semangat yang sempat pergi ke entah.

Terimah kasih Wahai pemilik seni kalimat
Terimah kasih Wahai pengrajin gores
Terimah kasih Wahai pewaris kata-kata
Hidangan gores-mu lezat dan menggelitik
Sajian gores yang refletif
Tontonan yang efaluatif
Serta gambaran inspiratif yang kaya nilai dan makn.

                                                                 Makassar, 2011
                                                                 By. Mail Soenardy
soenardymael@gmail.com

Renungan Relung Kalbu

Kabar angin dari jiwa
Himbau tanpa suara
Bagai aspirasi bisu
Hadir di tengah senyap
Haru hanyut dalam hayatan
Seolah terbawa arus
Terbuai dan tergoda dengan rayu kalbu
Berbagai esay pun seraya masuk kealam pikir
Tentang siapa kalbu
Serentak muncul usalli untuk menjejaki teka teki tersirat
Fokus dan serius saat masuk dalam ruang maya
Jumpa yang di damba pun terjadi
Hingga kalbu di kenal sebagai isyarat kebenaran
Yang selalu memberikan bingkisan hadiah berharga
Dan itu adalah Asa dan Cinta yang terbingkai dalam semangat.

                                                                      Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Amuk Papua

Amuk saudara papua
Adalah luapan amarah terhadap fenomena salah atur
Adalah luapan ekspresi kekecewaan terhadap kelalaiaan rezim
Adalah luapan sikap anti manusia serakah pelupa tanggung jawab
Adalah luapan protes penolakan pada srigala yang tak pernah sadar kewajiban
Pikir saudara papua
Rejekinya di curi pemangsa dalam repoblik
Arah kesejahteraan tak jelas
Arah keadilan tak pasti
Arah keberpihakan pengelola Negara kabur
Tak ada jaminan hidup lebih baik dalam NKRI
Akhirnya sikap saudara papua
Merdeka dan menjadi Negara sendiri sebagai solusi.
Ancaman disintegrasi bangsa lagi-lagi jadi tontonan
Negeri makin seram
Takutnya ada daerah di luar papua punya sikap yang sama.

                                                                                    Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Tiap Tiap Kita

Ribuan tempat
Ribuan alamat
Ribuan jalan
Ke kiri, Ke kanan atau ke tengah
Ke utara, ke selatan, Ketimur atau ke barat
Ragam arah
Tak lupa ragam petunjuk
Tentang Qua vadis
Aku, kamu dan mereka
Tiap-tiap kita punya pilih
Pilihan aku, pilihan kamu dan pilihan mereka
Tiap-tiap kita juga punya anut
Antara yang aku anut, yang kamu Anut dan yang mereka anut
Hendak tiap-tiap kita sering berbeda
Genggaman prinsip tiap-tiap kita yang tak bersua
Langka berlawanan sering mengundang benturan
Rumah keharmonisan bisa retak
Bangunan Kedamaian dapat runtuh
Adalah fakta warna warni mau dari tiap-tiap
Dan tak lupa pula mengenal ragam nilai
Nilai-nilai yang akan mengantarkan kita pada terminal terakhir
Tiba pada Terminal sejuk atau Terminal buruk  di tentukan oleh arah tiap-tiap
Walau kita adalah tiap-tiap tetapi keselamatan adalah misi bersama
Yakinlah bahwa ruang dan waktu tertentu akan menuntut tiap-tiap
Untuk berkibalat pada hendak yang tunggal dan bergandeng dengan mesra.

                                                                                Makassar. 31-10-2011
                                                                                Mail Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Virus Isu Politik

Alarm politik berbunyi
Isyarat musim tebar pesona tengah tiba.
Tiap warna sibuk berdandan mencari simpati
Tampil berkibar angkuh seolah pahlawan.

Celoteh aib giat di hembus
Bisingan dan gemuruh gumam caci maki berlari-lari
Bagai bayu sang penjelajah
 Menghampiri tiap pojok negeriku
Membuat cuaca tak bersahaja
Membawa aroma virus kepentingan
Adalah wabah penyakit yang membelai hirup
Kian melumpuhkan tubuh persatuan
Mencederai sendi persaudaraan
Pula melemahkan sum-sum semangat kebersamaan.

Tontonan liga seram
Ancaman nampak menyapa pikir
Jerit ketakutan mengetuk pintu hati
Seraya mengundang tanya
Apa yang hendak aku buat...???.  
 Moga jawaban memicu gerak
Agar tak teralienasi dengan pikir dan hati.

                                                                         Makassar, 14/ 11/ 2011
                                                                         By Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

PEMBERONTAK


 

Tatap riwayat kusam
Hirup perih tragedi kemanusian
Hayati cerita kaya derita di negeri emas.

Manusia srigala dan tak henti-hentinya
Ganas memangsa
Terbalut nafsu untuk merampas
Tertabur puing keserakahan
Kerakusan tiada cukup
Sorak tampik ria di tengah jerit tangis
Menuai peristiwa di bawah kolom langit.
Itik  mati kehausan di atas telaga
Ayam mati kelaparan di atas padi
Tentang rejeki yang di curi
Bayaran keringat yang tak sesuai
Adalah kemularatan di tiap sudut semesta
Gejolak nasib jutaan manusia di alam nyata.

Saat pohon kekejaman bertumbuh kembang
Dan dalam semai benih kebiadaban
Terlintas insyaf jiwa
Roh yang rindu kemerdekaan
Nurani yang hendak bebas dari cengkraman
Berkobar amarah perjuangan
Bersenjatakan pedang kebenaran
Sedia menebas walau nyawa terenggut
Dan tulus menebar amanah penderitaan kaum tertindas.
Berbahagialah wahai pemberontak
Dengan kematian bersama pedang kebenaran
Sesungguhnya kehidupan lebih lemah dari kematian
Dan kematian lebih lemah dari kebenaran.
Maka abadilah bersama keabadian kebenaran

                                                                               Makassar, 18 November 2011
                                                                               By Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

JEJAK

Akhir alam semesta tak kunjung tiba
Roda  waktu tiada henti bergulir
Melambai detik lalu
Bersua menit baru.
Saat nafas memberi peluang
Musafir mengayun Langkah
Berkelana di bawah terik matahari
Menjelajahi padang pasir nan luas
Hingga tati menggambar telapak.
Si sadar merekam semuannya
Mengetahui jejak itu berwarna
Kadang sehitam gulita
Kadang pula seputih awan.
Tentang kesan kusam dalam pijak
Adalah kesempatan masa lalu yang di abaikan.
Tanpa alpa tuhan menghimbau
Wal asri (Demi masa)
Maka sambil menanti maut yang tak di ketahui hari datangnya
Janganlah engkau sia-siakan masa itu (waktu-mu)
Karena tiap waktu ialah waktu yang tepat untuk mengukir jejak yang baik

                                                                                    Makassar, 26/ 11/ 2011
                                                                                    By Mail Soenardy

soenardymael@gmail.com 

PAGI

Tatkala subuh pamit pergi
Awan giat menabur embun
Membasahi dedaunan jerami
Alam tak beratap ikut terkuyur.
Ayam membunyikan serine
Sebagai isyarat kepada makhluk
Bahwa pagi telah tiba.
Fajar nan gemilang tersenyum dari ufuk timur
Sorotan sinar dari kejauhan mulai melangka
Perlahan merayu gunung nan hijau
Menyapa permukaan laut nan biru
Lalu membalut nusantara.
Flora dan fauna ria menyambut
Seolah tak sabar menerima kado berisikan energi.
Tanpa alpa manusia ikut bangkit dari pulas
Menggeliat di tengah sisa dingin yang sebentar lagi pudar
Serentak sadar untuk mengisi kesempatan.
Dan didalam kesejukan esaypun menghampiri
Berbisik pada hati
Apa yang hendak di buat?
Dan bagaimana caranya mengukir kesan indah di hari ini?

                                                      Makassar, 4 Desember 2011
                                                      By Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

GENERASI

Generasi…
Di lahirkan diatas ranjang berlumut gejolak,
timbul di tengah himpitan kemelut yang tak berkesudahan.
Muncul untuk mengunyah perih hidup tak berampun,hidup dengan ancaman ketidak pastiaan masa depan.

Generasi…
Tumbuh di sela tumpukan sampah busuk,
di dalam lumpur kota bakteri.
Hadir di tata kelola yang tak menjajikan kebahagiaan.
Rona polos cemberut kala mata melotot.

Generasi…
Hadir untuk bertarung dengan badai,
melawan derasnya arus carut marut.
  
Karnanya wahai generasi …
Hadir dan hadirkan sadarmu!
Sebab senyummu telah di renggut kebiadaban.
Warisan rejekimu masih terus di rampas rampok.

Hadir dan hadirkan insyafmu!
Sebab senyum saudaramu di tampar keserakahan.
Kelayakan hidup saudaramu tak ikhlas di berikan.
Hak saudaramu tak henti di kuras kemunafikan.

Generasi..
Hadir dan tentukan arahmu!
Sebab sejuta harap ada di pundakmu....

Sekali lagi... Generasi…
Hadir dan tentukan sikapmu!
Sebab kehadiramu adalah tetesan amanah tuhanmu,
yang amanah itu..
adalah perang melawan penindasan...


                                                           Makassar 12/12/2012
                                                           By Mael soenardy


soenardymael@gmail.com 

Ujar Eyang

Ujar eyang…
Sekolah yang benar agar kelak jadi manusia baik ya nak…
Jangan lupa sholat…!!!
Tidak boleh berbohong ya nak…
Jangan mencuri dan punya orang jangan di rampas.

Dan Ujar eyang…
Bergaullah dengan baik.
Hati-hati di jalan nak.

Ujar eyang…
Penyambung ungkapan sukma
Himbau yang mewakili wahyu sang pengasih
Ramuan ampuh penangkal racun duniawi.

Ujar eyang….
Pupuk penyubur kebijaksanaan.
Panduan cangkok pohon moral
Warisan yang dapat memperkaya kemanusiaan anak cucu.

Kini ujar eyang..
Sejuk yang hampir sirna si telan kemarau zaman
Mutiara yang di kubur cucu pelupa
Suci yang di hianati cucu pengabai
Cahaya yang redup bagi penggemar iblis

Dan kini ujar eyang
Musuh pecandu keangkuhan.

Hai….
Apakah tak penting untuk menghayati pesona jiwa yang meluap dari mulut keriput itu..?
Padahal pesan itu datang mendahului ejaan moral dari sekolah.

Ahh… sudahlah…
Mungkin ejaan moril itu tak kalian renungi seperti ku renungi saat ini.
Biarlah aku sendiri yang terhanyut dan terbuai dalam renunganku
Sebab.. Aku hanya tak ingin menjadi penghianat eyang hanya karena menghianati ujar_nya.
                                                                                                    
                                                                                                    Makassar, 15/ 12/ 2012
                                                                                                    Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

HADIR

Bukan perintah ustat
Bukan undangan mesjid
Bukan ajakan nabi
Bukan desakan surga
Bukan ancaman neraka
Bukan kepentingan
Bukan popularitas
Bukan tekanan remut
Bukan pula yang lain-lain

Tetapi…
Alarm ketulusan
Serine tanggung jawab

Ya…
Tulus hadir karna tanggung jawab

Maka…
Pekerjaan besar yang ku emban saat ini adalah….
Memahami dan melaksanakan tanggung jawab.

                                               Makassar, 18/ 12/ 2012
                                               By Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Bocah Pinggiran


Bocah pinggiran …
Merengek sejuk di kolom terik yang membakar.
Bermimpi rindang di tengah gurun
Kegalauan jiwa terungkap di balik binar matanya.
Sudi mengobral malu demi secuil rejeki.
Mengulur jemari…
Mengemis akan cerah hari esok
Liar mencari asa yang tak kunjung wujud
Tiada letih bertarung melawan kusutnya hidup
Tak henti merintih…
Merindukan belai belas kasih dermawan
Garis telapaknya berkata...
Bukan duit..
Bukan sesuap nasi..
Bukan pula segelas aqua…
Tetapi…
Masa depan yang gemilang

                          Makassar, 17/ 12/ 2012
                         By : Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

IBU

Ibu.....
Ku huni rahimmu
Ku reguk ASImu
Ku cucurkan keringatmu
Ku sibukkan ragamu
Ku rasakan sentuhanmu.

Belaimu sejuk bu......
Jemarimu lembut....
Dan pangkuanmu empuk sekali bu....

Ibu...
Ketulusanmu suci setarah wahyu
Tiada setitik bercak pamrih di relung kalbumu.
Kilau mutiara sukmamu terpancar di tiap sudimu
Keperkasaan di balik nafasmu ikhlas kau curahkan untuk riaku

Ibu....
Bening ikhlasmu
Polos jiwamu
Kesetiaan cintamu
Tak kuasa ku ukir dengan kata

Ibu...
Kan ku layangkan jutaan do’a untukmu
Rela ku pasrahkan jiwa ragaku untuk senyummu
Bukan karena surga di bawah telapak kakimu

Tetapi...
Terimah kasihku yang ku tahu pasti tak cukup untuk membalas budimu.

                               Hari Ibu, 2011.
                               Mael Soenardy

 soenardymael@gmail.com
 

CINTA DAN PENGORBANAN

Aku ada karena cinta Tuhan.
Hadir bersama cinta
Dan cinta mendesak ada­-ku
Tuk berbuat
Tekun
Seraya mengangkat asanya
Mewujudkan hendaknya
Memeluk setia
Tiada lengah
Tanpa henti
Tulus berupaya
Teguh
Membudakkan diri
Bagai abdinya susah
Lalu risau seni
Derita kreatif
Hingga memetik buah di balik buah
Buah nikmat di balik susah
Buah bahagia di balik derita
Buah hikmah di balik risau
Akhirnya bertemu maha bahagia

      ( Mael Soenardy, 24/12.2012 )

soenardymael@gmail.com 

Satu Hati Untuk Cita

Cita itu...
Adalah asa mimpimu dan mimpiku
Lafadz yang mengilhami ikatan ini
Hendak rumah idaman kita kawan.

Cita itu.....
Adalah rindumu dan rinduku
hulu yang kan kita tuju
Alamat nan jauh
Terminal akhir dari cerita kita kawan

Cita itu....
Adalah anganmu dan anganku
cerahmu dan cerahku di hari nanti
Mutiara hidupmu dan hidupku

Cita itu...
Pasti...
Tak dapat di wujudkan oleh para penyembah malas
Samar oleh mata pengagung abai
Juga takan nampak di mata penjunjung lalai

Dan Cita itu...
Takan dapat di rabah oleh jemari yang tak saling menyapa
Takan dapat di genggam oleh telapak yang tak berjabat
Takan dapat di peluk oleh lengan yang tak bergandeng

Sebab Cita itu...
Menuntut ketekunan
Ketangkasan
Keteguhan
Keikhlasan
Sudah tentu juga..
menuntut satu hati
kemesraan
Ayunan langkah yang teratur

Cita itu....
Memerintahkan kita
Untuk bersama
Mendendangkan alunan syair merdu kawan.

                            Makassar, 08/1/2012
                            Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Janji Embun Pada Pagi

Dalam detak waktu
Gulita pembalut semesta bertati
Mentaati kehendak sang maha gulir
Berpamit di penghujung giliran
Tatkala embun mulai di tabur awan.

Di bawah kolom atap semesta
Rayap jerami
Dan tiap sela kerikil terkuyur bening
Sejuk menyusup kedalam sumsum dedaunan
Juga tersimpuh romantika
Kemesraan antara pagi dan embun.

Denting detik mengundang Fajar
Hingga hadir dan nampak tersenyum di balik gunung
Perlahan naik tuk bertahta
Lalu bergelayut sambil merenggut sejuk dari pagi
Dan menyembur silau.

Meski pagi tak sudi embunnya di renggut terik
Pun pagi tak kuasa menahan sejuk embun yang di sedot
Pagi pun pasrah

Juga menaruh harap
Akan janji embun :


Beningku
Sejukku
Selalu untukmu duhai pagiku

Embunmu pasti kan kembali
Untukmu
Tepat pada waktu giliran kita.

                     Makassar, 15/01/2012
                     Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

DIRIKU UNTUKMU

Sudi ku beri…
Bukan sesuatu yang lebih dariku
Pula bukan materi punyaku
Tetapi jiwa ragaku
Ya…
Diriku untukmu.

Sudi ku beri…
Meski empedu ku telan
Meski Terkuyur derita
Meski duri menusuk
Meski pilu ku pikul.

Sudi ku beri…
Tanpa kata berharap darimu
Tiada bercak pamrih
Bening tanpa sebutir pasir
Tiada kehendak meminta darimu
Entah kenapa…
Mungkin ilmu tulus milik ibuku mulai merasuki jiwaku.

                                   Mael Soenardy
                                  Rabu, 18/01/2012

soenardymael@gmail.com 

RAKSASA











Rangksasa penggilas
Musuh keharmonisan
Monster penghancur kelestarian
Siluman pemusnah pohon rimbun
Berisik di tengah kicau burung nan merdu
Mengusik seraya mengusir manusia dan satwa
Mengupas dan melukai kulit bumi
Memangkas akar hingga tercerabut
Mencukur rambut hutanku hinga rontok
Menggali lubang amat besar
Lalu mencendrai keharmonisan semesta.

Raksasa penggilas
Merubah sejuk lingkunganku menjadi kota polusi
Negeri gersang kerontang dan kaya bakteri.

Raksasa penggilas…
Merampas senyum
Juga membunuh tawa dan nyawa hari kini dan kelak.

Tak tau kenapa sang raksasa mampu menerobos dan mendarat di bumiku..
Mungkin utusan dari negeri seberang
Atau mungkin juga hadir karena di undang. Entahlah.

                                               Jumat, 20/01/2012
                                               By :  Mael Soenardy 


soenardymael@gmail.com

Dimana Kita

Di detak keganasan era kini,
Hewan-hewan liar tak di jinakkan.
Anak cucu kian termangsa.
Lalu dimana kita,
Tatkala tragedi tragis kematian kemanusiaan tertancap

Di desah badai hari kini,
Dinding beton penangkal dan pembendung tak di bangun.
Pohon-pohon tumbang tergeletak tak berdaya.
Lalu dimana kita,
Tatkala akar keyakinan tergilas hingga tercerabut.

Di seruan ancaman masa kini,
Pohon rindang nan rimbun tak di rawat.
Terik kemarau terus bertahta di atas puncak kepala dan membakar
Lalu dimana kita,
Tatkala kering kerontang merenggut kesejukan makna.

                           Makassar, 24/ 01/ 2012
                           By : Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Berbagi dan Menuntun

Dari lidah mulut sukma,
Percikan ungkapan suci bergemuruh.
Seraya menaruh harap pada raga,
Tuk menanggalkan jaket ras.

Dari rongga mulut sukma,
Tersembur suara suci nan bergema.
Sembari menitip pesan pada raga,
Tuk bergaul dengan sesama manusia.

Dan dari bibir mulut sukma,
Terpancar lafadz suci.
Seraya menyuruh raga,
Tuk berbagi dan saling menuntun dengan sesama.

                       Makasar, 25/01/2012
                       Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

Antara Mampu Dan Tak Mampu

Mimpi tuk mengubah.
Kian menekan raga,
Menuntut kepastiaan akan wujudnya.
Memanggil perhatian jemari,
Tuk memahat,
Mengukir batang pohon menjadi patung
Memuat persada dipermukaan permadani
Menguntai tiap helai benang menjadi anyaman.
Merakit tanpa henti.
Telapak pun merintis jalan panjang,
Arah berliku.
Terjal penuh aral.
Dan dipersimpangan rel itu…
Raga bersua hasil,
Hasil yang dapat dirubah
Pula hasil yang tak dapat dirubah.
Hingga rasa memutuskan…
Tuk mengubah yang dapat dirubah
Juga menerima yang belum dapat dirubah
Sambil membedakan yang dapat dirubah dan yang belum dapat dirubah.

                                                                              Makassar, 03/02/2012
                                                                              Mael Soenardy

soenardymael@gmail.com 

“SENYUMMU MIMPIKU”

Aku ada bersama hasrat.
Hadir tuk belajar.
mengisi luang,
mewarnai hari,
melukis diatas lembaran waktu.
Merangkai butiran tercecer.
Menata puzel  yang belum teratur.
Memahat yang belum terukir.
Menjahit yang belum teranyam.

Laksana tak sudi,
halaman kesempatan kosong.
Maka terus merakit….
Tanpa harap,
tuk menikmati karya.
Sebab bagiku,
buah tanganku bukan untukku.

Ini tentang mimpiku.
Sudi membanting tulang,
demi tawamu,
ria kalian,
Dan senyum semua.

                          Makassar, 16/ 02/2012
                         Mael Soenardy 

soenardymael@gmail.com

Nikmat Seusai Empedu

 Penghuni kesempatan,
merintis arah,
melintasi lantai berduri.
Tulus menggauli pilu,
demi mencari maujudnya maksud

Laksana busur,
yang bergelut dalam waktu,
tuk menapaki jalan menuju tujuan.
Seraya mengangkat keteraturan,
yang bersemayam dibalik galau.

Dicarut hidup ini,
manusia terhimpit perih,
terusik derita,
terbalut mularat.
seperti biaya,
tuk membayar hikmah,
juga membeli kedamaian jiwa.
Adalah jawaban,
Nikmat seusai empedu.

              Makasar, 12/ 02/ 2012
              Mael Soenardy

KOTA AKSARA

Sampan diatas tarian gelombang,
Mengarungi samudra tanpa juru mudi.
Terombang ambing,
Bimbang,
Dan gelap arah,
Digegap gempita amuk badai.

Dibawah kolom atap semesta,
Sang maha sakral meneteskan fitrah.
Mengilhami petunjuk,
Tuk mengetahui,.
Kealpaan kompas pada cakrawala pikir.
Hingga sadar hadir laksana pahlawan.
mengawal,
dan mengantarkan kegerbang pintu.
Tatkala itu pula,
Penjelajahan berlanjut pada kota aksara.
Terlihat lukisan ditiap emperan kota
Cahaya disegala sela penjuru.
Hingga diujung tombak tatapan,
Nampak benih pohon ditanah ilalang tersemai,
Yang Insya Allah bertumbuh subur,
Lalu berbuah karya dan makna.

Akhirnya ingin ku sampaikan...
Tengoklah dunia,
buku adalah jendelanya.

                                               Makassar, 07/ 02/ 2012
                                              Mael Soenardy

RESEP SRIGALA

Saku karet srigala bermata rakus,
liar melototi rejeki orang.
Memangsa,
tanpa mengenal bendera.

Saku karet srigala bermata rakus,
membidik dari seberang.
Dan mampir,
memancarkan pesona keserakahan.
Merayu,
sembari melukai senyum,
juga merenggut kebahagiaan mangsanya.

Saku karet srigala bermata rakus,
berbagi kenyang dengan figur tanah air,
lalu menganugrahkan derita tak berampun tuk pribumi.

Saku karet srigala pencabut nyawa,
menabur racun ampuh,
tuk membunuh solidaritas,
hingga leluasa merampok tawa anak cucu.
Mengiris tubuh kebersamaan,
tuk mudah menghisap kemanusiaan.

Wajib dicamkan oleh anak bangsa,
bahwa memecah belah persatuan
adalah Resep Srigala.
                                                    Makassar, 18/ 02/ 2012
                                                    Mael Soenardy Marlforo

Sumpah Serapah Manifesto

Kisah jelmaan peristiwa.
Tentang kerja rodi,
upeti tak wajar,
senyum yang ditampar,
kebahagiaan yang di renggut,
adalah karunia dari pemuja keserakahan.
Daulat tuan asing menari,
sembari merangsang pengunjung daulat kemanusiaan.
Dan diatas perut nusantara,
genderang 1928 bergema.
Silam nan tengah terbentang dipangkuan riwayat.

Mereka,
para kesatria pertiwi,
melumat empedu jelata,
mereguk perih kemularatan,
lalu bersudi,
tuk mensepak kesesatan tingkah asing,
yang terbahak diatas rintihan derita pribumi.

Pada lampau itu,
ditiap daerah,
sub-sub roh perjungan bergentayangan.
NKRI tak kunjung maujud,
Hingga manifesto juang mencuat,
menggelegar lantas melebur,
menjadi ikrar sakti mandraguna,
ujaran ampuh,
bernada…..
persatuan
gotong royong,
demi kemenangan perikemanusiaan.
Dan kemerdekaan diraih.

Dikini dan kelak,
sumpah serapah manifesto kan tetap ampuh,
laksana ramuan mujarab,
tuk menyelamatkan pesona pribumi,
yang tak henti dirampas angkara murka.

                     Makassar, 04/03/2012
                    By Mael Soenardy

Kecelakaan Kehidupan, Salah atur dan Gairah

1).
Malapeteka,
Keterpurukan rejeki,
rintihan SARA berdarah,
musim kepunahan ke-kita-an,
tak lupa,
kejadian tragis lainya,
sebagai persembahan karya salah atur.

2).
Pola horor.
Rumus sesat,
ketergelinciran gaya,
lalu arah terpeleset
sebagai bias  kekurangan petunjuk.

3).
Maksud tanpa mikir,
Usul tanpa isi.
Menggenggam hampa,
mengalpakan cermat dalam niat,
sebagai imbalan harap tanpa gairah.


                      Ternate, 03/04/2012
                      Mael Soenardy